• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Prof. Bungaran Saragih Dorong Transformasi Pertanian Tropis Berbasis Huluisasi dan Hilirisasi

Prof. Bungaran Saragih Dorong Transformasi Pertanian Tropis Berbasis Huluisasi dan Hilirisasi

  • 18 September 2026, 3:45 PM
  • Agribisnis
  • HORTI INDONESIA

Tangerang, hortiindonesia.com - Indonesia memiliki kekayaan hayati tropis yang besar dan beragam. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai sumber bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan industri. Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., dalam Seminar Nasional “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi” dalam rangkaian ILDEX 2026, Rabu (16/9/2026).

Dalam keynote speech tersebut, Bungaran mengajak peserta melihat pertanian dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, Indonesia sebagai negara tropis sekaligus negara kepulauan memiliki karakter yang menentukan basis sumber daya, sistem produksi, kebutuhan teknologi, hingga arah industrialisasi.

Kondisi tropis memberikan ketersediaan energi matahari sepanjang tahun serta kekayaan hayati yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, tanaman obat, mikroorganisme, dan sumber daya genetik. Berbagai sumber daya tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi pangan, pakan, energi, obat, kosmetik, serat, biomaterial, pupuk, hingga bahan kimia berbasis hayati.

Namun, Bungaran mengingatkan bahwa potensi sumber daya belum otomatis menghasilkan kekuatan ekonomi.

“Potensi tidak otomatis menjadi kekuatan.”

Menurutnya, kekayaan alam baru dapat menjadi kekuatan bangsa apabila diolah melalui sumber daya manusia yang berpengetahuan dan ditopang teknologi, kelembagaan, pembiayaan, infrastruktur, serta tata kelola yang baik. Tanpa kemampuan tersebut, negara yang kaya sumber daya tetap berpotensi bergantung pada teknologi, benih, mesin, modal, dan pasar dari luar.

Pertanian sebagai Sistem Agro-Industri

Bungaran menilai pertanian perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem ekonomi yang lebih luas. Pertanian bukan hanya kegiatan yang berlangsung di sawah, perkebunan, kandang, tambak, atau hutan, tetapi juga berkaitan dengan industri benih dan bibit, pupuk dan alat mesin, produksi biomassa, pengolahan, energi, logistik, perdagangan, pembiayaan, riset, teknologi digital, standardisasi, serta berbagai jasa profesional.

Dengan perspektif tersebut, pertanian menjadi bagian dari Sistem Agro-Industri Nasional atau mega-sektor agribisnis.

Dalam pembangunan sistem tersebut, penguatan hulu menjadi perhatian penting. Selama ini, pembahasan mengenai pertanian kerap menitikberatkan pada hilirisasi. Padahal, menurut Bungaran, hilirisasi tidak akan memiliki fondasi yang kuat tanpa kemampuan produksi di sektor hulu.

Huluisasi mencakup penguasaan sumber daya genetik, pemuliaan, industri benih dan bibit, kesehatan tanah, pakan, pupuk hayati, alat dan mesin, data, teknologi budidaya, hingga pengorganisasian produsen.

“Hilirisasi yang kuat membutuhkan huluisasi yang kuat.”

Kondisi bahan baku menjadi salah satu alasannya. Industri pengolahan membutuhkan bahan baku yang seragam, tersedia dalam jumlah cukup, berkelanjutan, dan dapat ditelusuri. Sebaliknya, penggunaan benih unggul juga belum tentu langsung meningkatkan kesejahteraan petani jika tidak disertai kepastian pasar, pengolahan, dan harga yang wajar.

Karena itu, huluisasi dan hilirisasi perlu dirancang sebagai satu kesatuan.

Hilirisasi Harus Menghasilkan Nilai Tambah

Bungaran juga mengingatkan bahwa hilirisasi tidak cukup dimaknai sebagai pembangunan pabrik. Pabrik hanya menjadi salah satu bagian dari proses yang lebih panjang dalam menciptakan nilai tambah.

Hilirisasi yang lebih luas mencakup kemampuan mengubah komoditas menjadi produk, produk menjadi teknologi, teknologi menjadi kekayaan intelektual, hingga kekayaan intelektual melahirkan industri baru.

Kelapa sawit menjadi salah satu contoh yang disampaikan. Indonesia telah berkembang sebagai produsen sawit dunia dan menghasilkan berbagai produk pangan, oleokimia, kosmetik, serta bioenergi. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan yang perlu dilakukan, antara lain peningkatan produktivitas terutama di kebun rakyat, percepatan peremajaan, perbaikan legalitas dan ketertelusuran, penanganan penyakit tanaman, peningkatan efisiensi pabrik, serta pemanfaatan limbah menjadi energi, pupuk, dan biomaterial.

Pendekatan yang sama dapat diterapkan pada komoditas lain. Tebu, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai bahan baku gula. Dalam ekosistem biorefinery yang terintegrasi, tebu dapat menghasilkan gula, bioetanol, listrik dari bagasse, pupuk organik, pakan, serta produk berbasis biomassa.


Baca Juga: Menteri Pertanian Luncurkan Satu Data Statistik Pertanian Hortikultura

Hal ini menunjukkan bahwa hasil samping dari suatu proses produksi dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan nilai pada mata rantai berikutnya. Prinsip tersebut juga dapat diterapkan pada kelapa, kakao, kopi, sagu, rumput laut, hasil hutan, peternakan, perikanan, dan hortikultura.

Mendorong Bioekonomi yang Sirkular

Sebagai negara kepulauan, pembangunan pertanian juga membutuhkan dukungan logistik agro-maritim yang terintegrasi. Sentra produksi perlu terhubung dengan pelabuhan, gudang, rantai dingin, pusat pengolahan, energi, pasar, dan kawasan riset.

Keterhubungan tersebut diperlukan agar produksi berlebih di suatu daerah dapat dimanfaatkan sebagai pasokan di daerah lain. Sistem logistik yang tidak efisien dapat menyebabkan biaya pangan tetap tinggi, kehilangan hasil meningkat, dan industri kesulitan memperoleh bahan baku.

Di sisi lain, Bungaran menekankan pentingnya membangun bioekonomi yang bersifat sirkular. Biomassa perlu dimanfaatkan secara optimal. Produk utama dapat diarahkan untuk pangan atau bahan industri, sedangkan hasil sampingnya dimanfaatkan menjadi pakan, energi, pupuk, bahan kimia, maupun material. Air dan nutrien juga dapat didaur ulang, sementara emisi dan kehilangan ditekan.

Dalam kerangka tersebut, pembangunan ekonomi perlu berjalan bersama dengan peningkatan daya dukung ekologis. Bungaran mengaitkannya dengan prinsip “Balance and Progress”, yang menurutnya menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan di tengah proses kemajuan.

“Kemajuan tanpa keseimbangan dapat menghasilkan ketimpangan dan kerusakan.”

Karena itu, ukuran keberhasilan bioekonomi tidak hanya dilihat dari volume ekspor atau jumlah pabrik. Produktivitas, pendapatan petani, kualitas pekerjaan, penguasaan teknologi, regenerasi sumber daya, pengurangan emisi, pemerataan antardaerah, dan ketahanan nasional juga menjadi bagian dari ukuran yang perlu diperhatikan.

Lima Agenda Menuju 2045

Untuk mendorong transformasi pertanian tersebut, Bungaran menawarkan lima agenda bersama menuju Indonesia 2045.

Pertama, menyusun peta jalan huluisasi dan hilirisasi berdasarkan komoditas serta wilayah. Peta jalan tersebut perlu menghubungkan sumber daya genetik dan produktivitas dengan pengolahan, logistik, teknologi, pasar, dan pemanfaatan biomassa secara sirkular.

Kedua, membangun konsorsium inovasi yang berorientasi pada penyelesaian persoalan. Peneliti, perguruan tinggi, industri, petani, pemerintah, dan lembaga pembiayaan perlu memiliki sasaran bersama. Riset juga diharapkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi berlanjut menjadi prototipe, standardisasi, skala industri, dan pemanfaatan nyata.

Ketiga, memperkuat posisi petani, pekebun, peternak, nelayan, serta pelaku usaha kecil dalam rantai nilai. Akses terhadap lahan, benih bermutu, teknologi, organisasi ekonomi, pembiayaan, infrastruktur, dan pasar menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Keempat, membangun koridor agroindustri dan logistik agro-maritim yang menghubungkan desa, kota, pulau, pusat pengolahan, serta pasar domestik dan global.

Kelima, membangun tata kelola nasional yang mampu terus belajar. Setiap program perlu diukur, dievaluasi, diperbaiki, dan diperluas berdasarkan hasil nyata. Dengan demikian, transformasi tidak dipandang sebagai dokumen lima tahunan, tetapi sebagai proses lintas pemerintahan dan lintas generasi.

Menutup paparannya, Bungaran mengajak berbagai pihak memulai transformasi dari banyak titik, baik melalui laboratorium dan lembaga riset, perusahaan, koperasi, pemerintah daerah, lembaga keuangan, maupun generasi muda.

Menurutnya, berbagai inisiatif tersebut perlu dihubungkan melalui kolaborasi pengetahuan, produksi, pembiayaan, kebijakan, dan pasar. Dengan cara itu, transformasi pertanian dapat tumbuh tidak hanya melalui arahan dari atas, tetapi juga melalui prakarsa dari bawah dan proses saling belajar.

“Indonesia 2045 bukan sekadar tanggal peringatan seratus tahun kemerdekaan. Ia adalah batas moral bagi generasi kita.”

Bungaran kemudian mengajak seluruh pihak menyatukan huluisasi dan hilirisasi, darat dan laut, desa dan kota, produksi dan ekologi, pertumbuhan dan pemerataan, serta kepentingan saat ini dengan tanggung jawab kepada generasi mendatang. Dengan pendekatan tersebut, kekayaan tropis Indonesia diharapkan dapat ditransformasikan menjadi kekuatan nasional.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 18 September 2026, 3:45 PM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 18 September 2026, 3:45 PM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 18 September 2026, 3:45 PM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 18 September 2026, 3:45 PM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved