• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura: Membangun Hulu dan Hilir Hortikultura untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura: Membangun Hulu dan Hilir Hortikultura untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi

  • 18 September 2026, 9:18 AM
  • Agribisnis
  • HORTI INDONESIA

Tangerang, hortiindonesia.com - Penguatan sektor hortikultura tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Strategi tersebut menjadi salah satu fokus yang disampaikan Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Freddy, S.T.P., M.Sc., M.P.S., Ph.D., dalam seminar nasional bertajuk “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi” pada gelaran ILDEX 2026, Rabu (17/09/2026).

Dalam pemaparannya, Freddy menjelaskan bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp23.821,1 triliun. Dari angka tersebut, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar Rp3.120,6 triliun atau 13,10% terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan sebesar 5,33%.

Di dalam sektor pertanian, hortikultura menjadi salah satu subsektor yang memiliki nilai ekonomi cukup besar. Pada 2025, hortikultura menyumbang Rp324,9 triliun atau 13,65% terhadap PDB sektor pertanian. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan adanya ruang pengembangan lebih lanjut, terutama melalui penguatan sektor hulu dan hilir.

Potensi tersebut juga ditunjukkan dari besarnya jumlah pelaku usaha hortikultura. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 dan Statistik Hortikultura 2025, terdapat sekitar 9,49 juta rumah tangga usaha hortikultura dan 9,62 juta unit usaha pertanian perorangan yang bergerak di bidang hortikultura. Sementara itu, jumlah petani muda atau milenial di sektor pertanian mencapai 6,18 juta orang.

Meski memiliki basis pelaku yang besar, skala usaha hortikultura masih relatif kecil. Sebanyak 76,2% dari total unit usaha pertanian memiliki lahan kurang dari 1 hektare. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk hortikultura.

Indonesia sendiri memiliki potensi komoditas hortikultura yang sangat beragam. Berdasarkan Kepmentan No. 104/KPTS/HK.140/M/2/2020, terdapat 569 komoditas hortikultura yang berada dalam pembinaan, terdiri atas 60 komoditas buah, 82 sayuran, 66 tanaman obat, dan 361 tanaman hias.

Selain keragaman komoditas, hortikultura juga menawarkan peluang ekonomi yang menarik bagi pelaku usaha. Data analisis usaha tani 2023 menunjukkan sejumlah komoditas hortikultura memiliki keuntungan per hektare per tahun yang lebih tinggi dibandingkan beberapa komoditas pangan maupun perkebunan. Jahe emprit, misalnya, tercatat memiliki keuntungan Rp206,3 juta per hektare per tahun, sementara kencur mencapai Rp181,9 juta dan jahe gajah Rp168,1 juta.


Baca Juga: Kementan Dorong Petani Sayur Milenial Cianjur Kian Maju

Namun, pengembangan agribisnis hortikultura masih menghadapi sejumlah tantangan. Usaha produksi yang terfragmentasi dengan skala relatif kecil, kemitraan produksi dengan pasar atau offtaker yang belum optimal, produktivitas yang belum maksimal, serta tingginya penyusutan dan kehilangan produk menjadi beberapa persoalan yang perlu diperkuat. Di sisi lain, kualitas, keamanan pangan, informasi pasar, dan akses terhadap pasar juga belum tersedia secara merata.

Karena itu, strategi pembangunan hortikultura perlu dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Penguatan kelembagaan ekonomi petani menjadi salah satu langkah penting, termasuk peningkatan kapasitas manajerial dan bisnis, akses terhadap pembiayaan dan investasi, serta pengembangan kemitraan dengan pelaku usaha dan pasar.

Pada aspek produksi, penerapan standar seperti Good Agricultural Practices (GAP) perlu diperkuat, disertai dengan penanganan pascapanen melalui Good Handling Practices (GHP), sortasi, grading, pencucian, pengemasan, hingga penyimpanan dengan sistem rantai dingin. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan sekaligus mengurangi kehilangan produk dan memperpanjang masa simpan.

Pengembangan hilirisasi juga diarahkan pada diversifikasi produk bernilai tambah, mulai dari produk pangan dan minuman hingga kosmetik serta biopharma. Penggunaan teknologi pengolahan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, inovasi produk dan kemasan, serta pemanfaatan hasil samping menjadi bagian dari peluang pengembangan industri berbasis hortikultura.

Rantai nilai hortikultura juga membuka peluang usaha di berbagai lini, mulai dari penyediaan benih unggul, pupuk dan pestisida ramah lingkungan, alat dan mesin pertanian, serta solusi pertanian digital. Peluang kemudian berlanjut pada produksi, penanganan pascapanen, penyimpanan dan logistik, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran melalui pasar domestik, ekspor, platform digital, retail, industri, dan sektor hotel, restoran, serta katering.

Untuk membangun ekosistem tersebut, diperlukan kolaborasi multipihak. Pemerintah pusat berperan dalam penyusunan kebijakan nasional dan koordinasi lintas sektor, sementara pemerintah daerah berperan menyinkronkan program serta memperkuat ekosistem hortikultura di wilayahnya. Akademisi dapat mendukung melalui riset, inovasi, rekomendasi berbasis data, serta penguatan sumber daya manusia. Praktisi dan pelaku usaha berperan dalam penerapan teknologi, investasi, kemitraan, serta penguatan akses pasar, sementara masyarakat turut mendukung pelaksanaan program dan keberlanjutan sumber daya.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan hortikultura diarahkan tidak berhenti pada peningkatan produksi di tingkat hulu. Penguatan rantai nilai hingga pengolahan, distribusi, dan pemasaran menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing, serta kesejahteraan pelaku usaha hortikultura.

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 18 September 2026, 9:18 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 18 September 2026, 9:18 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 18 September 2026, 9:18 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 18 September 2026, 9:18 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved