• Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Profil
    Redaksi Hubungi Kami
  • Beranda
  • Berita
  • Event
  • Galeri
  • Tentang Kami
  • Sejarah
  • Hubungi Kami
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Cuaca Ekstrem Bukan Masalah! Tomat Bisa Tumbuh Subur dengan Teknologi Grafting

Cuaca Ekstrem Bukan Masalah! Tomat Bisa Tumbuh Subur dengan Teknologi Grafting

  • 13 Oktober 2025, 10:46 AM
  • Buah
  • Adhita Diansyavira

Sobat Horti, tahu nggak sih kalau tomat itu termasuk komoditas hortikultura yang punya nilai ekonomi tinggi di Indonesia? Sayangnya, produksi tomat sering banget terganggu karena cuaca ekstrem dan serangan penyakit.

Dilansir dari Pusat Riset Hortikultura (PR Hortikultura) BRIN dalam webinar HortiActive #21 bertajuk “Inovasi Teknologi Grafting Tomat dengan Menggunakan Batang Bawah Terung untuk Pengelolaan Cekaman Abiotik dalam Upaya Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani”.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, bilang kalau hortikultura tetap jadi sektor penting buat ekonomi nasional. Selain menopang ketahanan pangan, sektor ini juga ngasih kontribusi besar buat kesejahteraan petani.

Tapi, Puji juga menyoroti kalau produktivitas tomat di Indonesia masih rendah dibanding negara lain. Penyebabnya bisa macam-macam, mulai dari teknik budidaya yang belum optimal, serangan hama dan penyakit, sampai varietas yang kurang tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem, terutama di dataran rendah.

Puji menjelaskan kalau salah satu solusi yang lagi dikembangkan adalah teknologi grafting, yaitu teknik nyambungin batang atas (scion) tomat ke batang bawah (rootstock) dari tanaman lain dalam hal ini, terung. Dengan metode ini, akar tanaman bisa jadi lebih kuat dan tahan terhadap tekanan lingkungan seperti suhu tinggi, kelembapan tinggi, dan penyakit layu. Jadi, meskipun ditanam di musim hujan atau di daerah dataran rendah, tomat tetap bisa tumbuh dan berproduksi maksimal.

Kepala PR Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, juga menambahkan kalau riset yang dilakukan BRIN nggak cuma berhenti di laboratorium, tapi harus bisa diterapkan langsung di lapangan.


Baca Juga: Pasokan Cabai Lancar, Stok Aman Sampai Ramadhan Hingga Idul Fitri

Menurutnya, penurunan produktivitas tomat sering disebabkan oleh cekaman lingkungan dan penyakit, makanya lewat teknologi grafting ini diharapkan petani punya solusi yang lebih adaptif dan berkelanjutan untuk menjaga hasil panen dan kualitas buah. Ia juga bilang kalau kegiatan HortiActive ini bukan cuma ajang berbagi ilmu, tapi juga wadah buat memperkuat kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, swasta, dan pemerintah daerah dalam mengembangkan teknologi hortikultura yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh petani.

Dalam sesi paparan, Evy Latifah, peneliti dari PR Hortikultura BRIN, menjelaskan kalau grafting tomat pakai batang bawah dari terung terbukti bisa bikin tanaman lebih tahan terhadap berbagai tekanan seperti kekeringan, salinitas, atau genangan air. Selain itu, sistem akar dari terung lebih kuat dan tahan panas, cocok banget buat tomat di dataran rendah.

Teknologi ini juga bisa mengurangi tingkat kematian tanaman akibat penyakit layu fusarium dan layu bakteri. Dari hasil uji lapangan, metode grafting ini nggak cuma ningkatin ketahanan tanaman, tapi juga bisa ningkatin produktivitas dan kualitas buah. Evy bilang, grafting bukan cuma inovasi teknis, tapi juga strategi ekonomi, karena kalau panen meningkat dan gagal panen berkurang, otomatis pendapatan petani juga naik.

Dari sisi ekonomi, Joko Mariyono dari Universitas Diponegoro juga ngasih pandangan kalau adopsi teknologi grafting punya banyak keuntungan. Selain ningkatin hasil panen, penggunaannya bisa nurunin pemakaian pestisida, jadi lebih ramah lingkungan. Menurut Joko, kalau ada dukungan kebijakan dan pelatihan yang tepat, grafting ini bisa jadi game-changer buat petani hortikultura di Indonesia.

Sementara itu, dari sisi budidaya, Asteria Pitasari dari PT East West Seed Indonesia (Cap Panah Merah) menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh, mulai dari faktor genetik tanaman, kondisi lingkungan, kualitas tanah, teknik budidaya, sampai pengendalian hama dan penyakit.

Teknologi grafting jadi pelengkap penting yang bantu menyeimbangkan semua faktor itu. Tapi, Asteria juga ngingetin kalau keberhasilan inovasi kayak gini butuh pendampingan langsung di lapangan. BRIN bisa bantu dari sisi riset dan dasar ilmiahnya, sementara sektor swasta bisa dukung dari sisi hilirisasi biar teknologi ini bisa cepat diadopsi petani.

Sumber : BRIN

Berita Terkait

WAJIB DICICIPI : DURIAN BAWOR ASLI BANYUMAS

  • 13 Oktober 2025, 10:46 AM

Kementan Perluas Areal Tanam Bawang Putih di Lereng Gunung Wilis Tulungagung

  • 13 Oktober 2025, 10:46 AM

Awal Kisah Pisang Mas Tanggamus Go Internasional

  • 13 Oktober 2025, 10:46 AM

Brebes Panen Bawang Merah Setiap Hari

  • 13 Oktober 2025, 10:46 AM

Berita Terpopuler

  • Keren, Aplikasi Ini Bisa Identifikasi Aneka Jenis Tanaman
    22 Januari 2019, 11:45 AM
  • Kenali Ragam Jenis Alpukat: Mentega, Miki, sampai Kendil
    07 Mei 2024, 1:00 PM
  • Kenali Tiga Tahap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung
    18 Maret 2024, 10:53 AM
  • Cara Menanam Pohon Mangga dan Tips Agar Cepat Berbuah
    29 April 2024, 11:31 AM
  • 10 Jenis Durian Terpopuler di Indonesia, Enak dan Legit!
    01 Oktober 2024, 3:58 PM
  • VARIETAS KENTANG YANG COCOK DIOLAH JADI KERIPIK
    06 November 2019, 4:25 PM
  • Menanam Stroberi dengan Sistem Hidroponik
    11 September 2018, 11:23 AM
  • DIRIKAN INDUSTRI OLAHAN HORTIKULTURA UNTUK PRODUK GRADE RENDAH YANG TIDAK LAKU DI PASAR SEGAR
    19 Agustus 2024, 6:53 PM
  • Sunpride Pecahkan Rekor MURI untuk Pajangan Pisang Terbanyak
    02 Juni 2024, 5:11 PM
  • PEMULIAAN UNTUK HASILKAN VUB JERUK
    18 Juni 2024, 1:11 AM

Kategori Berita

  • Buah
  • Sayur
  • Herbal
  • Tanaman Hias
  • Gaya Hidup
  • Tips & Trik
  • InovTek
  • Jelajah
  • Sosok
  • Etalase
© Hortikultura Indonesia 2018 - 2026. All Right Reserved